PERDAGANGAN MANUSIA MEMBURUK DAN MODERASI BERAGAMA DITENGAH PANDEMI COVID-19
Tanggal 30 Juli lalu diperingati sebagai Hari Anti-Perdagangan Manusia Sedunia. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sejumlah badan dunia kali ini memperingatkan potensi memburuknya perdagangan manusia di tengah terus meluasnya perebakan virus corona. Pandemi virus corona telah menghambat upaya mengidentifikasi, mencegah dan memberantas perdagangan manusia karena sebagian besar sumber daya penegakan hukum dan anggaran dialihkan untuk menangani perebakan Covid-19. Dan pada saat ini, semua pihak rata-rata fokus terhadap perebakan pandemi Covid-19 sehingga lupa akan hal yang penting yaitu perdagangan manusia. Dalam hal ini, perdagangan manusia rata-rata dari golongan perempuan dan anak-anak. Namun, seharusnya anak-anak adalah generasi penerus bangsa dan agent of change di dalam negara ini negara Indonesia.
Di Indonesia sebenarnya sudah memiliki aturan hukum yang cukup untuk melindungi warga, khususnya para pekerja migran, dari perdagangan orang, tetapi tidak semua aturan hukum itu diimplementasikan di lapangan dengan baik dan benar. Untuk dapat mencapai target menekan angka perdagangan orang, kemitraan dengan semua pihak merupakan suatu keniscayaan yang harus diterapkan. Ini mencakup kerjasama erat dengan aparat penegak hukum, sektor swasta, serikat buruh, badan yang melakukan rekrutmen tenaga kerja hingga badan yang mengawasi pengiriman tenaga kerja. Seharusnya dalam hal ini, semua pihak harus bekerjasama supaya berkesinambungan satu sama lain.
Gejala radikalisasi yang menyasar generasi muda atau generasi milenial seringkali dimulai dengan pemahaman yang dangkal terhadap ajaran agama. Moderasi beragama ini harus digalakkan terutama di kalangan generasi milenial agar para generasi milenial dapat menerima perbedaan yang ada termasuk perbedaan pendapat yang ada di internal Islam sendiri. Sebagai manusia beragama, jelas agama punya peran penting dalam kehidupan kita. Sudut pandang agama hampir tidak pernah kita lupakan saat membicarakan setiap peristiwa dan fenomena yang ada. Termasuk membicarakan pandemi Corona. Memang, sepintas antara agama dan virus corona termasuk penyakit lainnya tidak terdapat hubungan yang tegas. Dalam pandemi covid-19 diharapkan masyarakat lebih eksistensi dalam agama supaya tidak terjadi perdagangan manusia kembali.
Komentar
Posting Komentar